Titik Tumbuh🍀

 Iringan lagu dengan nada dan lantunan musik dan arti kata-katanya membawa ku hanyut dalam pikiranku sembari menatap dinding kamar yg menemani kesendirian. Perlahan air mata  mengalir tanpa tahu dari mana asalnya berada. Seakan air hujan membasahi pipi. Mengingat rasa sakit itu lagi. 

Apakah sesakit itu ketika merasa ditinggal dan diabaikan keadaan itu berulang seakan membawa mala petaka dan rasa yang sama dulunya. Hilang dan redup apakah itu akan terjadi? Apakah itu yang di inginkan diri ini?. Pertanyaan ini seakan menelan secara perlahan. Kepala seakan berkelahi dengan hati dan selalu mempertanyakan diri. 

Maunya diri ini apa?. Ingin hilang dan tidak menampakkan diri lagi mungkin diri ini akan nyaman dengan kesendirian tapi rasa takut akan kesendirian itu lebih besar. Ingin kembali ke masa dulu menikmati setiap detik dengan segemgam semangat membara membawa senyum dan tawa tapi senyum dan tawa itu sudah menghilang di telan waktu akibat di anggap tak berharga dan tak bernilai. 

Berdiri di antara hamparan kosong bagai tanah gersang sekuat tenaga meyakinkan diri lagi bahwa akan mengubah keadaan kembali ke titik dimana rasa sakit tidak ada di abaikan di anggap sepele diremehkan dan di campakkan. Pertanyaan itu muncul di kepala ketika senyum itu kembali. 

Apakah ini hanya sesaat?. Sebanyak apa bahagia itu datang berubah menjadi pertanyaan sebesar apa nanti rasa sakitnya. Kegilaan ini membuat diri ini menikmati  kebahagiaan sewajarnya saja. Tetapi ketika melihat mereka sebahagia itu dan terwata terbahak-bahak. Dalam benak aku ingin seperti mereka. Terpancar kebahagiaan dari jiwa mereka. 

Entah sejak kapan jati diri ini menghilang. Perlahan tertelan waktu. Kekosongan di hati tidak dapat terisi. Apakah karna takut kecewa lagi?. Atau karna sudah di ambang batas tidak berdaya lagi. Tapi aku ingin hidup lagi. Aku ingin bernafas lagi. Aku ingin kembali ke titik dimana aku bukan yang sekarang ini. 

Aku rindu akan diriku yang dulu. Bebas tertawa dan bahagia tanpa berfikir kesedihan apa nanti ganti semuanya ini. Apakah aku bisa bangkit?. Berulang kali pertanyaan itu ku lontarkan untuk diriku sendiri. Berulang kali pula diri ini tidak bisa menjawabnya. 

Aku tidak ingin seperti ini. Aku tidak ingin menjadi pribadi seperti ini bersembunyi di balik senyum dan tawa dan tersimpan luka dan tangis di dalamnya. Tapi aku ingin tersenyum dan tertawa karna memang aku bahagia dan pancaran itu nyata. Itu diriku yang dulu. 

Katanya aku tidak butuh orang lain untuk mengisi kekosongan ku sendiri. Karna aku bisa kehilangan diriku ketika aku menggantungkan kebahagiaan ku pada orang lain. Dan saat orang  itu pergi. Maka jiwaku pergi meninggalkan diriku dengan sebanyak luka yang di tinggalkan. 
Tapi aku tetap tidak bisa. Aku selalu berbuat baik pada semua orang. Dan aku selalu menggantungkan kebahagiaan ku pada mereka. Ketika aku menolong mereka dan mereka bahagia aku merasa ikut bahagia. Tetapi ternyata aku salah, kebaikanku bisa di salah artikan bahkan kebaikan itu jadi di salah gunakan. 

Bahkan pandangan berbuat baik yang ku ketahui sekarang ini berubah menjadi salah dan bahkan bisa menjadi masalah besar kedepannya. Kemudian perlahan menumbuhkan rasa kecurigaan, tulusku perlahan terkikis. Banyak kata-kata di media sosial menjadi penyemangat dan pematah. Tapi kali ini aku akan mencoba sekali lagi. 

Mencoba lebih menyayangi diriku lagi. Lebih perhatian pada diriku lagi. Karna jiwaku tidak akan meninggalkanku. Sesakit apapun aku menyakiti diriku sendiri. Aku tidak akan meninggalkanku, tapi siapa yang mau menyakiti dirinya sendiri itu hanya orang bodah. Ya, dan aku sadar aku bodoh. Di titik ini aku memilih diriku sendiri. 

Aku ingin egois sekali ini saja. Aku ingin memperlakukan diriku sebagaimana aku memperlakukan orang. Aku akan mengisi cinta yang kosong dalam diriku yang bahkan tidak terisi dari pasanganku dan orang-orang terdekatku. Dan aku harus selesai dengan diriku sendiri, aku harus membahagiakan diriku terlebih dahulu. 
Dan tanpa sadar aku akan menarik diriku yang dulu dan orang-orang di sekeliling ku akan bahagia dengan sendirinya melihat pancaran kebahagianku. 

 Aku pasti bisa. Aku pemeran utama dalam ceritaku sendiri. Aku bukan pemeran pengganti tapi pemeran utama dalam kisahku sendiri seperti di film-film kesukaanku dan aku tidak akan membandingkan kisahku dengan yang lain. Karna semua juga punya kesusahan dan kisah mereka masing-masing. Aku ingin berada di titik itu. Di titik tumbuh yang ingin ku awali🍀



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Luka Yang Ku Sembunyikan

Tak ingin usai