Tak ingin usai

 Detik waktu semakin sedikit teringat aku waktu tangan itu menggemgam erat menghangatkan setiap kedinginan yang tersimpan dalam diriku, rasa sayang yang tulus hadir membasuh hampa dan tangisan, kau hadir dengan segudang pesonamu meyakinkan aku bahwa masih ada terang dari binar matamu dan masih ada kehangatan dari pelukan setiap doa yang kau lantunkan untukku.  

Aku tidak bisa mendefenisikan kau sebagai apa dalam hidupku tapi yang ku tahu aku selalu bersyukur dan aku tidak menyesalinya. Setiap langkah yang kita buat menjadi setiap balok kehidupan, ibarat batu bata yang kita susun di dunia kita menjadi sebuah rumah, dan tak ada satu orangpun yang benar-benar tahu apa isi di dalamnya.

Dunia dimana aku tahu semua suka dukamu, dan kau tahu suka dukaku. Keadaan dimana aku nyaman menjadi diriku dan kaupun demikian, rumah yang berisi setiap kisah dan petualangan yang tidak akan habisnya dan tersimpan setiap memori di dalamnya. Tak ku tahu rumah itu berisi setiap potongan-potongan petualangan yang tak terlupakan yang kita lalui dan memori yang indah yang tidak akan pernah hilang.

Dulu rumah itu kosong sekarang terisi dengan coret-coretan kisah yang tidak akan terulang lagi. Lukisan indah itu membuat ku ingin mengulangnya sebisa mungkin, tapi aku sadar itu tidak akan mungkin, karena rumah itu sudah memenuhi batasnya, dan sudah habis masa waktunya.

Sekarang rumah itu akan kosong kembali karena penghuninya akan pergi, rumah kosong itu perlahan-lahan akan di penuhi debu dan perlahan-lahan akan rusak dan hancur, tapi memori kenangan indah itu akan melekat dalam ingatan dan tidak akan hilang sampai nyawa dan jiwanya lenyap.

Kisah itu menjadi rahasia yang tidak ingin di sampaikan kepada siapapun, karena di anggap sebagai dosa yang akan menyakiti banyak manusia. Tapi kini kata iklas menjadi topeng dan sandiwara yang di buat menutupi segala luka dan kepedihan yang sungguh merenggut hati dan jiwa, yang merintih berteriak kesakitan dan bertanya-tanya dirimu pergi kemana?

Sekilas muka datar dan kata-kata seadanya tidak menjamin dia baik-baik saja. Justru dia yang paling terluka, dan menyadari bahwa ini salahnya. Menyeret manusia polos terlibat akan sandiwara hidupnya. Awalnya dia tidak bermaksud menyakiti tapi lama- kelamaan perbuatan-perbuatannya menjadi batu sandungan yang membuat orang lain tersandung bahkan sampai bisa melukai seluruh tubuh dan jiwanya. 

Tapi bukan penyesalan yang ada pada dirinya, tapi rasa syukur dan menjadi paham pada apa yang dia pegang dan yakini, bahwa dia adalah orang spesial dan sempurna dari perlakuan yang dia terima dari seseorang yang tidak bisa dia sebut sebagai miliknya.

Tapi mungkin di dunia lain, di kehidupan berikutnya dia ingin meminta bertemu kembali dan di mana yang maha esa dan alam semesta memberi dukungan untuk mereka bersama selamanya.๐Ÿ€

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Luka Yang Ku Sembunyikan

Titik Tumbuh๐Ÿ€