My Serendipity
Kabarmu tak lagi aku dengar, ceritamu dan tawamu tak lagi terhubung denganku. Bagaimana keadaanmu? aku tidak tahu. Hari itu kau menyapa ku kembali, mungkin sudah seribu keputusan kau renungkan dalam pikiranmu untuk menyapa ku. Satu kata yang sulit kau ucapkan akhirnya kau ucapkan dengan keberanian penuh, "aku merindukanmu", entah kenapa hari itu aku tersenyum mendengarnya, dan berfikir bagaimana bisa dia merindukanku?, hari-hari berlalu, tapi kata-katamu seakan menjadi racun dalam diriku, aku terhanyut, dan seakan kata-kata rindu itu menggerogoti diriku, semakin hari semakin aku merindukanmu.
Astaga dalam benakku, apakah ini ilusi yang ku buat-buat, atau benarkah aku merindu?. Aku berusaha mengabaikannya, tapi perasaan itu semakin menjadi-jadi. Perasaan rindumu yang ku tertawakan itu sekarang ada padaku. Aku berfikir keras alasan apa yang harus ku buat untuk menyapamu. Saat itu ada momen yang tepat menurutku, aku menyapamu dengan sapaan receh, menanyakan ongkos perjalanan ke suatu tempat yang jelas-jelas aku tahu berapa biayanya.
Berharap kau membalasnya dan perasaan gelisah ini bisa hilang. Kau membalasnya tapi ada perasaan yang berbeda, rasanya rinduku tidak tersalurkan. Sejenak aku berfikir apakah harus bertemu?. Aku mencari di antara keramain di sepanjang jalan yang ku lalui seraya berdoa sekali saja, punggungnya saja, rasanya aku hampir gila. Baru ku sadari ternyata inilah yang dia rasakan.
Komunikasi muncul entah dari mana asalnya, tapi kali ini berbeda. Kau meminta saran dariku karena terpikat seseorang, awalnya aku biasa saja, entah kenapa aku merasa sedih. Tapi kemudian aku berfikir, kenapa aku sedih?. Harusnya aku bahagia, bukahkah itu keinginanku?. Segudang pertanyaan berada dalam kepalaku. Seketika ada sosok yang berbicara dalam diriku, "kau maunya apa sih? Kau egois dengan berharap dia untukmu, tapi kau memperlakukannya seburuk itu, kau manusia paling jahat". Aku berusaha memberikan saran terbaik yang ku bisa. Tetapi setelah itu banyak perasaan aneh muncul dalam diriku, aku menyadari dia bukan seseorang yang ku kenal lagi, ada yang hilang dari dirinya, aku tidak bisa menjangkaunya lagi.
Entah karena kata-katanya yang mengatakan dia merindu, bahwa itu adalah keputusan terakhir kali yang dia tekankan untuk dirinya, upaya terakhir yang bisa dia lakukan, atau dia sedang berusaha menghindar dariku, atau dia di tahap sudah tidak ingin terluka lagi??. Tapi satu hal yang kusadari aku sudah menerima jawabannya, dengan dia menceritakan bagaimana dia menyukai gadis itu. Itulah jawabannya
Perasaan itu sudah benar-benar hilang, dan dia berusaha menghindar. Dan bodohnya aku tanpa berfikir panjang datang dan mengganggunya. Tapi apa boleh buat aku harus mengatakan apa yang ku rasakan, bahwa aku sangat rindu, dengan begitu rasa gelisah dalam diriku akan menghilang. Tapi kehadiranku berada di saat yang tidak tepat. Dia sedang berada di titik terendah dalam hidupnya, dimana dia kehilangan gairah dan semangat hidupnya, di tambah kehadiranku itu malah menambah kekacauan baginya. Maaf yah, aku tidak bermaksud mengganggu ketenanganmu. Kali ini saja...., aku janji ini yang terakhir.
Komentar
Posting Komentar