No Name
Chapter 1๐
Ingat kala awal kita bertemu dan saling terhubung. Awalnya ku kira kau hanya manusia yg sekedar hadir yang berlalu saja sama dengan orang lain pada umumnya. Kala itu aku mendengar kabar yang tidak mengenakkan tentangmu pikirku wah yang mana orang nya rasa penasaranku memuncak kala teman satu rumahku asik membicarakanmu, pas aku melihat ooo kamu orang nya kok beraninya kamu melakukan hal seperti itu dalam hatiku dan aku pergi berlalu melewatimu yang saat itu berdiri terpaku. Tahun berikutnya aku bertemu denganmu aku menemukan sisi lain dari dirimu ternyata kamu baik dan rajin.
Masih ingat pertanyaan pertamu bukan tentang materi yang ku ajarkan tapi pertanyaan aneh yang nyeletuk tentang diriku yang menikah. Dan pertanyaan itu menggelikan perutku membuatku tertawa. Aku hanya menjelaskan bahwa apa yang kau pikirkan itu salah. Mendengar itu ekspresimu berubah. Entah apa dalam pikiranmu saat itu aku tidak bisa memahaminya.
Saat itu aku terduduk diam beristirahat dari kegiatan yang selalu ku lakukan, salah seorang rekan mempertanyakan masalah uang bangunan, kau mengaku bahwa kau adalah anggota keluarga salah seorang yang sudah ku anggap sebagai binaan ku sendiri. Betapa terkejutnya aku baru menyadarinya.
Hari kian berlalu tanpa ada peringatan dan aba-aba, malapetaka itu datang kau hilang bersamaan dengan seseorang binaan ku yang membuat aku bertanya-tanya kemana? Ada apa?. Karena sepanjang yang ku tahu kau bukan tipikal orang yang akan terlibat masalah dan kejadiannya begitu mengkhawatirkan.
Aku berlari menjumpai seseorang yang bisa untuk ku ajukan pertanyaan tentang keberadaanmu karena kau adalah binaannya. Tapi hasilnya nihil. Aku menunggu keesokan harinya. Aku bertemu dengan gadis ku yang terdiam yang memendam semuanya dalam hatinya.
Bertemu dengannya aku kembali teringat diriku dulu yang di hadapkan masalah sebelum aku cukup dewasa untuk menanggungnya. Aku merangkulnya mengajaknya bicara. Darinya aku tahu apa yang kau alami dan seberat apa bebanmu. Aku juga menjumpai seseorang untuk ku ajukan pertanyaan hari dimana kau akhirnya muncul kembali.
Entah takdir atau apa inilah titik awal aku terhubung denganmu. Sepanjang hari aku kepikiran apa yang akan aku lakukan? bagaimana aku akan menguatkannya?
Keesokan harinya aku melangkahkan kaki dengan semangat dan berusaha memberikan materi semaksimal mungkin sesekali aku meliriknya. Melihat dia bisa tertawa dan bercanda dengan temannya aku berfikir wahh dia bisa menutupi semuanya dengan rapi.
Aku kemudian menarik nafas mulai menceritakan kehidupan pribadiku dan cerita itu menarik perhatianmu. Ku sisipkan kata-kata yang memotivasi diriku dulu kala aku seusiamu (ketika masalah datang artinya kita bakal naik level/naik kelas) yang ku pikirkan adalah semoga kata-kata ini bisa juga menjadi pegangan untukmu. Kau terdiam dan tertunduk tidak terlihat sedikitpun dirimu dari pandanganku kau bersembunyi di belakang punggung teman-teman mu. Dalam hatiku apakah aku terlalu ikut campur?. Apakah aku melukai harga dirinya?. Entahlah yang ku lakukan hanya mengikuti hati nurani ku..
Sampai akhirnya aku melangkahkan kakiku keluar dan kau mengikutiku bersama temanmu tanganmu yang ingin meraihku ku hempaskan dengan buku di tanganku. Dan kau hanya tersenyum. Dan aku tetap memberimu semangat. Entah caraku benar atau salah aku tidak tahu
Sampai akhirnya kau mulai bertingkah aneh meneriaki namaku dimanapun aku berada. Menungguku pulang dan mengikuti tepat di belakangku dan tak lupa bersama teman-teman mu juga dan senyummu yang selalu kau tunjukkan untukku. Awalnya aku mengira itu hanya kebetulan. Tapi siapa sangka kebetulan itu berlanjut sampai tidak tahu titik berhentinya dimana
Komentar
Posting Komentar