Muak
Berulang-ulang perasaan itu kembali, perasaan di mana sedih ku diabaikan, tangis ku tak di anggap, amarah ku tak di dengar, lelah ku tak di tanggapi. Aku capek dan sudah muak, caraku melihatmu sudah berubah, sekarang aku paham, alasan seseorang meninggalkan pasangannya, karena mereka tidak di anggap ada dan selalu di abaikan.
Aku berfikir keras apakah pilihan ku sudah benar?, semakin aku bertanya sama diriku sendiri semakin aku dihantui bahwa aku akan menderita, saat aku akan bersamamu nanti aku tahu aku akan menderita, kesepian sepanjang waktu sampai aku mati. Pribadimu yang selalu sibuk dengan game dan teman-temanmu selalu membuat ku bertanya, sekarang ini aku sebagai apa?, pacar kah? Atau bukan.
Kata-katamu seolah meyakinkanku tapi dari tindakanmu tidak ada yang benar di dalamnya, bahkan aku keadaan sakitpun, kau akan membiarkannya sendiri, karena prinsipmu aku harus menyelesaikan masalahku sendiri, bahkan tangisku, bahkan sedihku, bahkan amarahku harus ku selesaikan sendiri. Jadi peranmu sebagai pasangan ku apa?. Trus gunanya hubungan ini apa?
Mungkin kita akan membahas ini, kemudian kau berubah seminggu dua minggu trus kembali ke awal lagi, dan aku sudah lelah, lebih baik kau tinggalkan aku dan jalani kehidupanmu sendiri, kalo tidak aku bisa mati, bukan mati yang di kuburkan tapi perasaan yang benar-benar mati.
Tapi sepertinya hal itu sudah terjadi dan sudah mati berkali-kali. Kini aku sudah malas bertanya, sudah malas menjelaskan aku maunya di perlakukan gimana, aku sudah tidak peduli lagi kau mau kemana sama siapa terserah, entah kau dengan wanita lain juga terserah. Aku tidak kenal kau siapa lagi. Bahkan aku tidak tertarik menikah, berulang-ulang perkataan itu aku lontarkan ke orang tuaku.
Ayah..., ibu... aku tidak ingin menikah semua laki-laki berengsek. Tak ada yang baik dan tulus. Ayahku memarahi ku, ibu ku juga. Nanti kalo kau tua siapa yang menemani, tidak apa-apa aku bisa sendiri. Dari pada aku menikah ketika kalian tidak ada aku malah sengsara dan kesepian. Tidak banyak wanita meninggal karena menikah, tetapi banyak wanita meninggal karna salah menikah.
Setiap aku melihat orang yang di cintai segitunya, aku akan selalu bertanya dalam hati, kapan yah aku di rayakan?. Apakah ini akibat aku jahat kepada orang-orang?. Apakah ini balasan karena aku penolak perasaan orang yang tidak bisa ku balaskan?. Tapi Tuhan aku kan tidak bersalah, bukankah aku juga ada hak dalam menolak perasaan mereka?. Tapi caramu memperlakukan ku seolah-olah aku bukan tujuan, tapi pilihan yang memang hanya karena aku baik aja.
Yang tidak pernah menuntut apapun, dan selalu minta maaf bahkan bukan salahku, semua keadaan yang terjadi karena semua salahku, dan selalu merasa bahwa kau selalu benar. Kau berfikir aku harus menerima ketika kau bersama dengan teman-temanmu, dan sibuk dengan dunia mu, dan ketika kau menghubungiku aku harus stand by selalu. Kau kira aku apa???
Aku juga punya kehidupan aku juga punya perasaan. Bukan berarti jadi suka-sukamu. aku ingin berhenti. Aku seperti kehilangan diriku sendiri, aku tidak lagi berteman dengan siapapun, aku tidak terlalu dekat dengan keluargaku, kini aku benar-benar sendiri. Kesepian yang kurasakan menjadikan aku kosong, kekosongan ini membuatku overthingking, sudah seminggu aku tidur jam 1 pagi.
apakah kau tahu itu?, tidak kan?
Hahaha, karena kau engga akan peduli, dan kau bahkan akan mengatakan bodoh sekali tindakanmu kenapa kau seperti itu?, itulah alasan kenapa aku malas cerita samamu, karena kau hadir bukan untuk menenangkan tapi kau malah men jug dengan argumenmu sendiri. Terakhir aku tidak pernah cerita apa-apa lagi. Aku sudah muak. Yang ku lakukan sekarang aku upload status. Dengan begitu sedikit menenangkan jiwa ku yang kesepian.
Meskipun itu bukan aku yang sebenarnya, aku tidak terlalu suka orang-orang mengurusi hidupku. Tapi darimu aku belajar seakan aku hidup sebatang kara. Aku tidak menganggap mu spesial lagi, kau sama dengan orang yang lalu lalang yang gak jelas arahnya hadir dalam hidupku, aku mau cut off. Tapi aku terlalu lelah melihat tangis orang tuaku yang berharap aku menikah dan happy ever after.
Hubungan ini sudah tidak penting lagi bagiku, kalo lanjut ke pernikahan yang udah, kalo tidak lanjut juga tidak apa-apa. Lakukanlah semaumu. Aku sudah lelah, lelah yang benar-benar menghabiskan tenaga. Sesekali aku melihat fotoku yang dulu. Dimana aku gemuk dan sehat, dalam hatiku aku memang gak cocok berpacaran, aku cocoknya single.
Tapi aku pernah melihat anak sekolah minggu yang memberikan persembahan pujian untuk Tuhan, entah kenapa aku menangis, dan dalam hati berdoa, Tuhan aku juga pengen membangun keluargaku sendiri, aku juga pengen nanti anakku ikut pelayanan dan menyembah Tuhan, ada di titik dimana aku mengalami kerinduan seperti itu, tapi melihat pasangan suami istri di dunia nyata sekarang tidak ada yang beres.
Mungkin satu sampe lima tahun masih aman, tapi tidak ada yang menjamin perasaan itu seumur hidup. Aku igin perasaan itu tetap abadi dan tidak berubah-ubah, tapi hal itu sangat jarang di jumpai. Perasaan manusia berubah. Setahun dua tahun dia mencintaimu, di tahun ketiga kau bukan siapa-siapa lagi, dan itu yang paling ku benci.
Komentar
Posting Komentar